Kuansing, Riau — Kabar duka tentang penambang emas tanpa izin (PETI) kembali menyelimuti Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing). Di balik ketegasan hukum, tersimpan kisah pilu para pekerja yang setiap hari mempertaruhkan nyawa demi sesuap nasi. Mereka bukanlah penjahat, melainkan ayah, ibu, dan anak yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
“Kami butuh makan, Bang,” ujar seorang pekerja PETI dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di sebuah warung, Jumat (5/9). “Kalau kami dibilang tidak punya izin, tolong tunjukkan di mana kami bisa mengurus izinnya.”
Kalimat itu bukan hanya ungkapan rasa frustasi, melainkan cerminan dari sebuah dilema yang tak berkesudahan. Di satu sisi, mereka dihadapkan pada tuntutan perut yang harus dipenuhi. Di sisi lain, jerat hukum terus mengintai, membuat mereka hidup dalam ketakutan dan persembunyian.
Para pekerja PETI di Kuansing ibarat buronan yang harus bermain “kucing-kucingan” dengan aparat penegak hukum. Mereka rela mempertaruhkan nyawa, tak hanya karena bahaya longsor atau racun merkuri, tetapi juga demi menghindari penangkapan. “Kami bekerja di tanah kami sendiri,” tambahnya, seolah mempertanyakan keadilan di balik regulasi yang ada.
Kisah mereka bukanlah sekadar berita kriminal, melainkan potret nyata dari perjuangan dan harapan yang terperangkap dalam lingkaran kemiskinan. Mereka adalah manusia yang mencari celah kehidupan, meski harus berada di ambang bahaya. Sudah saatnya kita melihat lebih dalam, tidak hanya dari kacamata hukum, tetapi juga dari sudut pandang kemanusiaan.
Apa yang terjadi di Kuansing adalah cerminan dari persoalan kompleks yang memerlukan solusi komprehensif. Perlu ada jembatan antara kebutuhan masyarakat dengan regulasi yang ada. Pertanyaan yang mereka lontarkan, “di mana kami bisa mengurus izinnya?”, adalah pertanyaan yang harus dijawab. Bukan hanya oleh pemerintah, tapi juga oleh kita semua yang peduli. (B.A)







Komentar