TELUK KUANTAN — Gemuruh sorak-sorai di tepian Narosa mungkin masih terdengar saat siang membakar Kuansing. Namun, begitu matahari terbenam, wajah Pesta Rakyat Pacu Jalur Nasional 2026 menyisakan cerita berbeda: sepi, gelap, dan sunyi. Bagi mereka yang saban tahun merawat rindu pada tradisi ini, Pacu Jalur tahun ini terasa seperti kehilangan rohnya.
Kekecewaan itu terpancar jelas dari raut wajah para pengunjung luar daerah.
Keriuhan malam yang biasanya menjadi daya tarik utama seolah menguap begitu saja.
”Pacu tahun ini sangat berbeda,” ujar seorang wisatawan asal luar daerah dengan nada kecewa. “Tahun-tahun lalu, malam hari di sini hidup sekali. Kendaraan lalu lalang tiada henti, jalanan padat merayap.
Sekarang? Sepi sekali, seperti tidak sedang ada acara nasional.”
Dampak lesunya atmosfer festival ini menghantam langsung para pelaku usaha kecil yang menggantungkan harapan pada momen setahun sekali ini. Di sudut jalan, riak kekecewaan menyeruak dari balik asap kuali pedagang malam.
”Biasanya, Bang, jam satu dini hari itu dagangan kami sudah habis bis. Sekarang? Sudah jam lima subuh, nasi goreng di gerobak masih bertumpuk banyak,” tutur seorang pedagang nasi goreng di pinggir jalan sambil menatap lapaknya yang renggang pembeli.
Kesan redupnya pesta budaya ternama ini kian diperparah oleh minimnya fasilitas publik. Di depan Masjid Agung Kuansing—salah satu titik pusat keramaian—lampu jalan justru dibiarkan mati padam berhari-hari. Kegelapan yang menyelimuti kawasan ikonik tersebut seolah menyimbolkan redupnya kemeriahan Pacu Jalur tahun ini. Tanpa pendar cahaya festival dan riak lautan manusia, malam-malam Pacu Jalur 2026 bergulir datar—tak ubahnya seperti hari-hari biasa tanpa kesan sebuah pesta akbar masyarakat Kuantan Singingi (BA)












Komentar