TELUK KUANTAN – Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) resmi tancap gas dalam upaya memperkuat otot finansial daerah. Memasuki tahun 2026, Pemkab Kuansing meluncurkan serangkaian strategi agresif untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) demi melepaskan diri dari ketergantungan dana transfer pusat.
Bupati Kuansing, Drs. H. Suhardiman Amby, Ak., M.M, menegaskan bahwa kemandirian fiskal bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menjamin keberlanjutan pembangunan dan kualitas pelayanan publik.
“Kemampuan kita menggali potensi internal adalah kunci. Kita tidak boleh terus-menerus ‘menengadah’ ke pusat. Pembangunan Kuansing harus ditopang oleh kekuatan ekonomi kita sendiri,” tegas Bupati Suhardiman.
Peta Jalan Optimalisasi Pendapatan
Di bawah komando Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Kuansing akan melakukan perombakan besar-besaran dalam manajemen pajak dan retribusi. Kepala Bapenda Kuansing, Masrul Hakim, membeberkan beberapa poin krusial yang menjadi fokus utama tahun ini:
Audit & Modernisasi Data: Melakukan pendataan ulang (re-tapping) wajib pajak secara digital untuk meminimalisir kebocoran.
Intensifikasi Pajak Sektor Unggulan: Memperketat pengawasan pada pajak hotel, restoran, reklame, hingga pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB).
Komersialisasi Aset Tidur: Mengubah aset daerah yang selama ini pasif menjadi nilai ekonomi melalui skema kerja sama pemanfaatan dan penyewaan yang profesional.
“Aset kita melimpah. Jika dikelola dengan sentuhan bisnis yang tepat, ini akan menjadi mesin uang baru bagi daerah,” ujar Masrul Hakim saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (12/3/2026).
Salah satu kartu as yang disiapkan Pemkab Kuansing adalah optimalisasi sektor pariwisata, khususnya Festival Pacu Jalur. Event kolosal ini tidak lagi hanya dipandang sebagai ritual budaya, melainkan sebagai penggerak
Dengan jutaan pasang mata yang tertuju pada festival tahunan ini, Bapenda berencana memaksimalkan retribusi dan pajak dari lonjakan okupansi hotel serta transaksi kuliner yang terjadi selama perhelatan berlangsung.
“Pacu Jalur adalah peluang emas. Kita akan maksimalkan pengelolaannya agar dampak ekonominya langsung terasa pada kenaikan PAD. Ini adalah warisan yang harus memberikan kesejahteraan,” tutup Masrul Hakim dengan optimis.{B.A)








Komentar