PEKANBARU- Melalui Tim yang dimotori oleh Program Vokasi D3 Teknik Elektro, melakukan promosi penggunaan Battery Energy Storage System, disingkat dan disebut (BESS). Lalu , BESS ini dipergunakan untuk pedagang kuliner bergerak di kota Pekanbaru, pada pertengahan Desember 2024.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Inovasi Kreatif Mitra Vokasi (INOVOKASI) yang ditaja oleh Direktorat Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program INOVOKASI dalam promosi cara menggunakan BESS melibatkan 1 (satu) UMKM yaitu usaha kuliner “Mie Yamin A.K.” yang beralamat di Kelurahan Sekip, Kecamatan Lima Puluh, kota Pekanbaru.
Pada kegiatan tersebut, Tim Pelaksana Program INOVOKASI yang diketuai oleh Dosen Budhi Anto, ST, MT., telah menyerah-terimakan perangkat BESS yang terdiri atas kemasan kompak battery-pack LFP dan inverter daya juga unit battery chargernya.
Perlu kita ketahui, BESS yang diserah-terimakan itu telah mempunyai spesifikasi kapasitas penyimpanan 3-kWh, tegangan keluaran 220-V 50-Hz dan daya keluaran 1000-W. Sedangkan unit battery charger menghasilkan tegangan keluaran 58,4 V dengan arus charging 10-A.
Seperti dikatakan Dosen yang bernama lengkap Budhi Anto, ST., MT., dihadapan para Awak Media,“BESS ini bisa dipakai untuk menyalakan lampu-lampu LED dengan total daya 120 watt, freezer dan blender selama satu malam pemakaian (6 jam). Kemudian besoknya BESS di-charge, untuk dipakai pada malam hari”, ujar Budhi Anto menjelaskan.
Setelah selesai kegiatan serah-terima, beberapa cara yang harus diketahui dalam penggunaan BESS yaitu, cara melakukan moda discharging (atau moda pemakaian muatan baterai) dan cara melakukan moda charging (atau moda pengisian ulang muatan baterai). Kegiatan pelatihan juga mencakup penjelasan tentang cara melakukan pemeliharaan terhadap BESS agar produk ini dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama.
“Pedagang kuliner bergerak dapat mengisi muatan baterai yang ada di dalam kemasan BESS pada siang hari, dengan menggunakan moda charging. Kemudian pada malam hari, mereka menggunakan BESS untuk menyalakan lampu-lampu dan peralatan listrik lainnya, dengan menggunakan moda discharging”, ujar Budhi Anto.
“Biaya operasional peralatan ini sebulan maksimal sekitar Rp 150.000, yaitu biaya untuk men-charge baterai yang terdapat dalam kemasan BESS. Battery charger-nya juga sudah include diserah-terimakan, jadi pedagang dapat men-charge menggunakan listrik yang tersedia di rumah mereka”, imbuh Budhi Anto menjelaskan keunggulan peralatan ini dibandingkan dengan jika pedagang menyewa listrik dari pemilik lahan tempat mereka mangkal.
Kemudian, kata seorang pedagang mengaku bahwa, peralatan yang BESS itu sangat bermanfaat bagi pedagang kuliner bergerak. “Dengan alat ini saya tidak perlu lagi membayar iuran harian untuk penyambungan listrik ke tempat jualan saya, sebesar Rp 10.000 per malam. Saya juga bisa jualan di tempat-tempat keramaian tanpa khawatir listriknya diambil dari mana”, ujar Agung Kharisma Putra, seorang pemilik usaha kuliner Mie Yamin A.K., di Pekanbaru-Riau.
Terakhir, kata Pimpinan Tim promosi penggunaan BESS tersebut, “Saya berharap peralatan yang kami serahterimakan dengan UMKM ini dapat menarik minat pedagang-pedagang UMKM lainnya, yang punya masalah dengan penyediaan tenaga listrik untuk tempat usahanya. Lalu silakan mempergunakan peralatan hasil kreatifitas Dosen UNRI ini,” ujar Budhi Anto berpromosi (Krt)