**TELUK KUANTAN** – Tata kelola pemerintahan di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) mendapat sorotan tajam dari tokoh masyarakat setempat. H. Saifullah Aprianto, atau yang akrab disapa **Yan Tembak**, melayangkan kritik sekaligus masukan konstruktif terhadap gaya kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuansing, H. Muklisin.
Melalui tulisan terbukanya yang beredar luas di grup WhatsApp masyarakat Kuansing, Yan Tembak menegaskan bahwa jika Muklisin serius ingin membawa Kuansing maju dan berkembang, ia harus berani merombak pola penempatan pejabat. Pemerintahan ke depan wajib mengutamakan kompetensi, bukan kedekatan emosional semata.
“Jangan anti-kritik. Selagi kritik itu bersifat membangun, pemerintah harus mau mendengar demi kebaikan bersama,”* cetus YanTembak mengawali catatannya.
Menurut Yan Tembak, pengisian posisi Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau pejabat eselon II mutlak harus didasarkan pada kualifikasi, kompetensi teknis, dan bidang keilmuan yang relevan. Langkah ini dinilai Penting agar program-program pembangunan daerah dapat berjalan secara efektif dan tepat sasaran.
Ia merincikan tiga prinsip utama yang harus ditegakkan secara konsisten oleh Plt Bupati Muklisin:
1. **Kualifikasi dan Keadilan Politik:** Pengangkatan pejabat wajib berbasis latar belakang pendidikan dan keilmuan. Penempatan harus dilakukan secara adil dan wajar, tanpa terpengaruh oleh balas budi politik atau kedekatan personal.
2. **Kesesuaian Bidang Ilmu:** Kepala dinas teknis wajib memiliki rekam jejak pendidikan dan keahlian yang sinkron dengan tugas pokok serta fungsi instansi yang akan ia pimpin.
3. **Uji Kompetensi yang Akuntabel:** Calon kepala OPD (Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama) harus melalui tahapan seleksi terbuka atau *assessment* yang ketat. Proses ini penting untuk mengukur kesesuaian keilmuan, kemampuan manajerial, hingga aspek sosial-kultural.
YanTembak memberikan peringatan keras jika pola lama—yaitu menunjuk pejabat atas dasar keinginan pribadi atau kedekatan semata—masih dipelihara. Ia menyamakan pola asal isi jabatan tersebut bak film komedi *Naga Bonar*.
Jika gaya kepemimpinan “asal tunjuk” ini diteruskan, pemerintahan Plt Bupati Muklisin diprediksi tidak akan membawa perubahan apa pun dibanding para pendahulunya.
“Bahkan, dampaknya bisa jauh lebih rusak dan amburadul,”* tegasnya.
Ia menggaris bawahi bahwa ada lima posisi vital yang menjadi motor penggerak utama pembangunan daerah dan sama sekali tidak boleh dijadikan tempat “eksperimen” politik:
* **Sekretaris Daerah (Sekda)**
* **Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)**
* **Badan Pendapatan Daerah (Bapenda)**
* **Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Perkim**
* **Inspektorat**
Kelima posisi di atas, menurutnya, adalah jantung dari jalannya roda pemerintahan. Jika posisi-posisi strategis ini diabaikan dan diisi oleh orang-orang yang tidak berkompeten di bidangnya, maka taruhannya adalah masa depan daerah.
“Jika Pemerintahan Muklisin asal isi atau abai dalam hal ini, maka akan semakin rusaklah negeri (Kuansing) yang kita cintai ini,”* pungkas Yang Tembak mengingatkan.(***)
MAJU LAH NEGERI KU








Komentar